• Perdagangan satwa lindung di Kota Malang, Jawa Timur, nyatanya tidak dikerjakan dengan sembunyi-bunyi. Harga satwa itu ikut dibanderol murah. 

     

    Surya, Minggu (9/3/2014), temukan pedagang yang dengan berterus-terang tawarkan burung Alap-alap Macan (Falco severus) di Pasar Burung Splendid, Kota Malang, 

     

    "Ini harga nya Rp 130.000 saja," kata si pedagang, akhir minggu kemarin. 

     

    Berdasarkan Ketentuan Pemerintah (PP) 7/1999, satwa ini masuk dalam rincian 236 satwa yang dilindungi. 

     

    Perdagangan dengan sembunyi-sembunyi diprediksikan lebih ramai di pasar ini. Satwa yang diperjualbelikan juga sering disembunyikan di luar stan dagangan. 

     

    Beberapa spesies satwa lindung yang di jual ialah lutung jawa (Trachypithecus auratus), kukang jawa (Nycticebus javanicus), burung kakatua (Cacatuidea), serta beberapa spesies elang dari famili Accipitridae. 

     

    "Di Splendid tiga pedagang sempat diolah dengan hukum sebab jual satwa lindung. Sesudah keluar dari penjara, mereka ini kembali pada usaha awal, tetapi dengan diam-diam," kata Rosek Nursahid, Chairman ProFauna Indonesia. 

     

    Beberapa pedagang ini tidak memajang barang dagangan di kios. Mereka tempatkan binatang-binatang itu di gudang spesial. 

     

    "Demikian ada calon konsumen yang betul-betul memberikan keyakinan, mereka akan bertransaksi di gudang itu. Syaratnya, calon konsumen mesti menyerahkan uang panjar dahulu sebelum transaksi berjalan. Uang panjar itu ikut untuk tunjukkan jika konsumen betul-betul serius," tuturnya. 

     

    LSM konservasi satwa serta rimba ini dengan periodik, satu bulan sekali, membuat penelitian pada beberapa pasar hewan di Jawa serta Bali. 

     

    Dari riset-riset seperti itu muncul terdapatnya pendapat modus transaksi semacam ini. 

     

    Sumarsono, Penyidik PNS Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BB KSDA) Jawa Timur membetulkan masih tetap terdapatnya perdagangan satwa lindung. 

     

    Walau demikian, banyaknya sekarang sudah jauh menyusut jika dibanding pada lima sampai 10 tahun kemarin. 

     

    "Dahulu ada banyak orang yang dengan terbuka serta berterus-terang jual satwa lindung di pasar-pasar hewan. Saat ini telah tambah lebih menyusut. Kalau ada, cuma satu atau dua orang saja serta dagangannya cuma dikit," kata Sumarsono, Kamis (11/3/2014). 

     

    Razia yang sering diselenggarakan petugas dapat mendesak peredaran di pasar. 

     

    Seseorang pedagang di Pasar Kupang Surabaya yang didapati Surya mengutarakan, jual beli satwa liar di tempat ini condong tertutup. 

     

    "Ya masih tetap ada. Saat ada keinginan, ada-ada saja yang berupaya menemukan barang (satwa pesanan)," papar pria yang tidak ingin dimaksud namanya ini. 

     

    Di Jawa Timur, ia kenal penyuplai satwa langka itu salah satunya dari Mojokerto. Satwa yang seringkali dipasok itu kucing rimba, kakatua, nuri, serta enggang Kalimantan. 

     

    Akan tetapi, sebab biasanya razia, dia sesaat pilih "tiarap". Ia tidak berani kembali menjual satwa liar dengan terbuka. Takut diamankan serta masuk penjara. 

     

    "Saat ini jika ada konsumen, transaksinya langsung ke penyuplai di Mojokerto. Itupun barangnya telah jarang sekali," katanya. 

     

    Sumber Berita : hargacara com


    your comment
  • Zakaria Mayuntu masih tetap tampak bugar. Berjalan kaki sejauh 3 km. tidak membuat ngos-ngosan. Walau sebenarnya, Juli yang akan datang, usianya genap 66 tahun. “Tadi habis beli gula. Jika jalan kaki, opa masih tetap kuat. Hanya mata so kabur, deng telinga so korslet,” katanya buka pembicaraan. 

     

    Opa Zaka, demikian dia diketahui, ialah petani dari Desa Bantane, Kecamatan Rainis, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Terakhir, dia serta istrinya, Ostelina Lamangsiang, banyak habiskan waktu di pondok untuk mengurus kebun serta mengawasi ternak. 

     

    “Opa miliki kebun seputar 10 hektar, telah dibagi ke 5 anak. Semua jadi petani,” tutur opa Zaka saat didapati Mongabay Indonesia di pondoknya, Senin (13/6/2016). 

     

    Dahulu, saat hasil kebun belumlah sebagus saat ini, opa Zaka ialah penangkap nuri talaud (Eos histrio talautensis). Kegiatan itu ditempuh semenjak tahun 1970-an, serta berhenti pada awal 2000-an. “Opa dahulu tangkap burung di rimba Rirung, Dapalan, Rae, bahkan juga sampai di Suaka Margasatwa Karakelang selatan. Dapat 1 minggu berada didalam rimba.” 

     

    Saat masih tetap aktif lakukan penangkapan, opa Zaka telah ada di rimba seputar jam 10 pagi untuk memanjat serta memoleskan lem kayu dibagian dahan pohon. Terdapat beberapa dahan yang diolesinya. Ia paham benar kapan waktu yang pas dan tempat manakah saja sebagai pohon tidur burung. 

     

    Sesudah memoleskan lem kayu, di dahan-dahan barusan, dia menggantungkan seekor sampiri, nama lokal nuri talaud, menjadi umpan. Hingga, saat burung lainnya hadir, mereka menempel di dahan pohon serta tidak dapat kembali terbang. 

     

    Demikian sukses menangkap beberapa burung, opa Zaka mulai mengolesi minyak kelapa di badan sampiri. Lalu, mencabut bulu primer dengan berhati-hati. Karena, katanya, jika bulu rusak, harga burung sampiri akan turun. 

     

    Seturut pengakuannya, burung-burung itu belum pernah di jual di pasar. Dia lebih pilih jual ke orang per orang. Walau tidak selamanya ada yang pesan, akan tetapi tetap ada yang beli sampiri. 

     

    “Pertama kali opa jual sampiri, pada tahun 1970-an, harga per ekor masih tetap Rp2.500. Paling akhir, seputar tahun 2000, satu ekor sampiri di jual di harga Rp15.000,” katanya. 

     

    Menjadi perbandingan, sesuai dengan info paling akhir yang didapat Mongabay Indonesia, sekarang ini harga sampiri per ekornya pada Rp80.000-150.000. Tambah lebih mahal, akan tetapi bukan bermakna sepi peminat. Pada bulan Juni ini contohnya, BKSDA Resort Karakelang utara mengambil alih 7 sampiri yang dijaga masyarakat di kecamatan Beo. 

     

    Opa Zaka bercerita, dahulu konsumen burung hasil tangkapannya hadir dari beberapa kelompok, dari mulai kenalan, perantau sampai petinggi ditempat. Menurutnya, sesudah beli burung itu, beberapa orang kembali menjualnya. Cuma beberapa yang mengakui beli menjadi oleh-oleh. 

     

    “Karena belumlah dilindungi, dahulu banyak petinggi beli sampiri, kong kirim keluar,” jelas ia. 

     

    Berdasar pada pernyataan opa Zaka, sekali tangkap burung, dia dapat mendapatkan 30 sampai 50 ekor sampiri. Sampai akan memutuskan berhenti, diprediksikan beberapa ribu sampiri telah dia tangkap serta jual. 

     

    Berhenti Tangkap Burung, Jadi Pelindung Sampiri 

     

    Akhir-akhir ini opa Zaka serta istrinya banyak habiskan waktu di pondok, supaya bisa mengatur kebun serta ternak dengan optimal. Akhirnya digunakan untuk menolong perekonomian anak-anaknya. Kadang-kadang, mereka kirim bekal makanan, yang hasil dari kebun, untuk cucu-cucu yang tengah berkuliah. 

     

    Read More : dimanakah tempat membeli burung nuri

     

    Di antara aktivitas itu, dia sudah memiliki komitmen untuk menyertakan diri dalam agenda perlindungan sampiri. Sekarang, telah 15 tahun opa Zaka tak akan tangkap burung itu. 

     

    Melalui keterangan beberapa instansi konservasi, ia paham populasi burung itu semakin menyusut serta sudah dilindungi Undang-Undang. Peluang generasi yang akan datang melihat burung endemik Talaud itu ikut jadi pertimbangannya. Di kuatirkan, bila kegiatan penangkapan tidak di stop, cucu-cucunya tidak dapat kembali lihat sampiri dengan cara langsung. 

     

    “Opa berhenti tangkap burung bukan sebab diminta. Demikian sadar dpe jumlahnya dikit serta so dilindungi, opa menyesal dengan tindakan dahulu,” katanya. 

     

    Sesudah berhenti tangkap sampiri, opa Zaka mulai ajak kawan-kawannya untuk lakukan tindakan sama. Pada mereka, dia menuturkan status keterancaman serta konsekuensi hukum jika didapati tangkap atau memperdagangkan sampiri. Efeknya, katanya, beberapa rekanan di desa Kuma, Apan, Tuabatu serta Tabang, akan memutuskan turut berhenti. 

     

    Tidak hanya langkah persuasif, opa Zaka ikut aktif menahan beberapa orang yang masih tetap lakukan penangkapan burung di rimba atau usaha memperdagangannya. Langkah lainnya yang ditempuhnya ialah melapor beberapa orang meresahkan ke BKSDA ditempat serta lembaga-lembaga yang ikut serta aktif dalam penyelamatan sampiri. “Mereka tidak dapat dusta. Opa sudah mengetahui taktik-taktiknya. Karena, Opa dahulu ikut tukang tangkap burung.” 

     

    Ia bercerita, saat orang Filipina masih tetap gampang hadir ke Talaud, sampiri seringkali diangkut memakai pamboat untuk dibawa ke negara mereka. “Kalau di desa Apan, dahulu, masih tetap ganti sampiri dengan parang atau panci. Beberapa orang Filipina demikian dahulu, saat itu mereka masih tetap seringkali masuk kesini.” 

     

    Sempat satu kali, opa Zaka berdebat dengan seseorang dari Filipina. Saat itu, demikian dikisahkan ia, pihaknya tengah lakukan pendataan burung. Tidak diduga, orang dari Filipina barusan mengatakan jika sampiri ialah kekayaan alam punya negara mereka. 

     

    Ia naik pitam, serta berkeras untuk mengamankan sampiri. “Saya katakan, pada orang Filipina itu, kalian mengambil burung itu dari pulau Karakelang.” 

     

    Dengar pengakuan opa Zaka, lawan bicaranya urung tangkap burung itu. Dia sukses mengawasi sampiri serta menahan usaha mengalihkannya dari rimba ke kandang burung. “Burung sampiri hanya berada di Talaud. Ia ialah kekayaan alam yang tidak bisa diamankan serta diperjualbelikan,” tegas opa Zaka. 

     

    Sampiri dikenal juga dengan nama red and blue lory. Survey Burung Indonesia, pada 2003, diprediksikan jumlahnya sampiri di pulau Karakelang sekitar 16.531 individu. Mereka menyebar di tiga type vegetasi, yakni rimba primer, rimba sekunder serta kebun. Lalu, pada 2006, didapat jumlahnya sampiri sekitar 19.322 individu. 

     

    Rumor Terpenting Penangkapan serta Perdagangan Sampiri 

     

    Menurut Hanom Bashari, Biodiversity Conservation Specialist Burung Indonesia, sekurang-kurangnya ada tiga rumor terpenting dalam penangkapan serta perdagangan (penyelundupan) beberapa jenis paruh bengkok ke luar Talaud serta Indonesia. 

     

    Pertama, penyelundupan sampiri dari Talaud ke Filipina nampaknya belum berhenti. Beberapa keringanan akses jadi keuntungan buat masyarkat untuk lakukan perihal ini. 

     

    Ke-2, sekarang ini tidak ada pemantauan serta patroli teratur dari pihak berkaitan, seperti BKSDA serta Kepolisian. Kelonggaran pengawasan, di kuatirkan Hanom, jadi kesempatan buat penduduk ditempat untuk kembali jadikan penangkapan serta penyelundupan sampiri jadi mata pencaharian penting. 

     

    Ke-3, tidak ada laporan dari Filipina tentang tindakan penyelundupan ini. “Tentunya ini mesti jadi perhatian dua lembaga pemerintah berkaitan untuk memonitor serta hentikan penyelundupan ini,” catat Hanom Bashari dalam “Isu-Isu Terpenting Perdagangan Burung Paruh Bengkok dari Lokasi Wallacea ke Luar Indonesia, 2004-2014”. 

     

    Penangkapan serta perdagangan sampiri sudah sempat diawasi oleh Burung Indonesia pada 2004-2006. Sekurang-kurangnya, dalam 3 tahun itu sekitar 358 individu di kirim atau siap di kirim ke Filipina. 

     

    Lalu, berdasar pada investigasi Komune Penggemar Alam Karakelang (Kompak), Oktober 2013, sekitar 115 individu nuri talaud yang siap di kirim ke Filipina sukses diambil alih. 

     


    your comment
  • Penduduk Desa/ Kecamatan Asembagus, di gemparkan penemuan sesosok bayi dibawah pohon kelapa di samping penampungan sampah desa ditempat, Kamis (15/11/2018) . 

     

    Bayi mungil berkelamin lelaki seberat 3 kilo-gram serta tinggi tubuh 49 cm. itu, diketemukan pertama kurang lebih jam 05. 00 WIB oleh Sahyani, penduduk ditempat. 

     

    Bayi yg dikira berencana dibuang oleh ibu kandung itu, kala diketemukan memanfaatkan gerita bayi warna putih ada bercak darah, popok bayi warna putih biru ada gambar kartun beruang merk zoko ada bercak darah, kaos bayi langsungan warna putih merah depan ada gambar kartun ada bercak darah, kain bayi (gedong) warna putih motif gambar kartun ada bercak darah. 

     

    Awal kalinya, Sahyani akan pergi ke rumah Syaiful buat mendukung tetangganya yg tengah akan membuat Maulud Nabi Muhammad SAW. 

     

    Tapi di dalam perjalanan, Sahyani dengar nada tangisan bayi yg dikira nada kucing. 

     

    Namun Sahyani kaget kala menyaksikan tangan bayi itu serta langsung mengambilnya dan membawa pulang bayi itu ke rumah serta berjumpa keponakannya. 

     

    Seterusnya, berita penemuan bayi itu dilaporkan terhadap kades serta dilanjut kepihak Polsek Asembagus. 

     

    Terasa laporan itu, Kapolsek bersama-sama anggota mendatangi rumah Sahyani serta tinjau tempat penemuan bayi lelaki yg masih tetap ada darahnya itu. 

     

    Buat menegaskan situasi kesehatan bayi itu, Kapoksek bersama-sama kades membawa bayi itu ke bidan desa ditempat. 

     

    Kapolsek Asembagus, AKP Sugiono, mengatakan pihaknya tetap akan mengerjakan pengumpulan bukti-bukti buat tahu siapa ibu kandung bayi itu. 

     

    " Kami masih tetap memahami serta mengerjakan proses penyelidikan buat mencari ibu kandung bayi itu, " kata AKP Sugiono 

     

    Sumber Berita : situs sumber


    your comment
  • Welia Iyah (27) , masyarakat Desa Padang Darat, Kecamatan Amuntai Selatan, pelihara 19 ekor kucing. 

     

    Sebelum dirawat, kucing-kucing itu telantar di jalan. Dia lalu merawatnya di dalam rumah. 

     

    Mulai sejak 2010, Welia seringkali selamatkan kucing tidak tidak tertangani. Apabila dikelompokkan mulai sejak tahun 2010, dia udah pelihara kucing lebih kurang 500 ekor. 

     

    “Kadang ada lihat kucing di pasar atau di jalan yg kurus tidak tertangani, ada pula yg masihlah kecil serta ditinggal oleh induknya, saya bawa juga pulang serta dirawat, ” katanya. 

     

    Bahkan juga, dia sempat merasa kucing terlantar dengan penyakit chlamydia yg bikin mata kucing abuh serta berair. 

     

    Dia mengusahakan mengobati penyakitnya dengan ajukan pertanyaan di group penggemar kucing yg berada di jejaring sosial. Maklum, dia tidak miliki cost membawa kucing ke dokter hewan. 

     

    Usahanya membawa hasil. Dari kabar yg dicapai, dia dapat mengobati penyakit itu. 

     

    Baca Juga : mata kucing mengeluarkan air

     

    Welia rata-rata memberikan makan kucing-kucingnya dengan nasi serta ikan puyau. 

     

    “Kalau memberikan makan sore, malam hari beberapa kucing dapat buang air di rumah. Jadi, bila memberikan makan kala malam kala mendekati tidur, ” katanya. 

     

    Diakui dia pelihara kucing memanglah perlu dana. Tetapi, dia tetap tidak tega lihat kucing telantar, tubuh kurus, dan tidak tertangani. 

     

    Sering dia kerepotan menjaga kucing-kucingnya. Karena itu, dia membolehkan teman-temannya mengambil kucingnya untuk dirawat. 

     

    Tetapi, dia tetap selektif untuk berikan kucing peliharaannya terhadap topiknya yg memang suka pada kucing serta pengen merawatnya. 

     

    Dia ikut terima sumbangan apabila ada yg mau menolong cost perawatan kucing-kucing terlantar itu. 

     

    Apabila terbangun menolong Welia pelihara kucing-kucing telantar, Anda dapat mengontak Welia di nomer 085249198674 untuk memberikan pertolongan 


    your comment
  • Sekitar 1. 000 peserta penggemar burung dari Semarang serta sekelilingnya ikuti lomba kicau burung di BSB Village, Minggu (4/11) . 

     

    Koordinator Sales BSB Village, Muhammad Hasan memaparkan, kira-kira 1. 000 peserta ikuti lomba kicau burung ini. Kesempatan ini jumlahnya peserta semakin banyak dari tahun kemarin ialah 980 peserta. 

     

    " Kesibukan ini teratur tiap-tiap tahun digelar BSB Village. Maksudnya adalah untuk mengangkut serta melestarikan kapasitas lokal di daerah Cangkiran, Gunungpati serta sekelilingnya, " ujarnya. 

     

    Dikatakannya, tidak cuman durian, kapasitas lokal yang berada pada daerah Cangkiran, Gunungpati, Boja, Mijen di sekelilingnya merupakan kekayaan burungnya. Banyak penduduk di sini yang masuk dalam populasi penggemar burung. 

     

    Pada perlombaan ini ada 27 model kelas yang dilombakan. Di antaranya, burung love bird, burung kacer, burung kenari, burung cucak hijau, burung murai batu, burung cucak jenggot, burung anis merah, burung trucuk, burung kolibri, burung cucak jenggot serta terdapat banyak kembali. 

     

    " Syarat-syarat pemenang terdapat pada kicau burungnya, sehat tidaknya burung, keindahan burung, " katanya. 

     

    Hasan memasukkan, dikehendaki dengan kesibukan ini bisa tingkatkan penjualan rumah BSB Village. Pada acara itu, dia membidik bisa terjual lima unit rumah di BSB Village. Tahun ini dia membidik kenaikan penjualan sebesar 20 prosen dari tahun kemarin. 

     

    Terhitung, tahun ini telah terjual 120 unit rumah. Mulai sejak dibuat hingga sampai saat ini penjualan rumah di BSB Village telah sampai 450 unit dengan keseluruhan area 65 hektare. Direncanakan, BSB Village menyiapkan tempat tinggal kira-kira 2. 500 unit-3. 000 unit. 

     

    " Dalam tempo dekat kami dapat buka klaster baru kembali bernama Aurora Valley sekitar 90 unit pada awal tahun kedepan. Terkecuali itu, kami juga membuat club house yang ditambahkan, restoran, kolam renang, taman serta rumah joglo, " katanya.

     

    Website : jenisburung com


    your comment



    Follow articles RSS
    Follow comments' RSS flux